Berada di ujung barat Nusantara, Pulau Rusa memiliki kekayaan lobster,
teripang, udang, dan aneka jenis ikan yang berlimpah ruah. Survei
membuktikan, terumbu karangnya masih terjaga baik meskipun tsunami
dahsyat menyapu kawasan tersebut.
Wajar jika Anda tak kenal Pulau Rusa. Maklum, secara geografis pulau
ini terletak di ujung barat wilayah Nusantara dan berada di Samudra
Hindia, tepatnya di koordinat 95o 12′ 3,27′ – 95o 12′ 32,74 Bujur Timur
dan 5o 16′ 22,53″ – 5o 16′ 54,83 Lintang Utara.
Pulau tak berpenghuni ini terletak di Kecamatan Lhoong, Kabupaten
Aceh Besar, Provinsi Aceh. Meskipun terpencil dan terisolasi, pulau
kecil seluas 0,296 kilometer persegi ini memiliki nilai strategis jika
ditinjau dari sudut pandang geopolitis.
Bukan apa-apa, perairan di Pulau Rusa berbatasan dengan India. Itu
artinya, pulau yang juga tersapu tsunami dahsyat dan berbentuk mirip
rusa itu memiliki peran penting dalam menentukan batas wilayah antara
Indonesia dan India.
Karena itu, pulau bertopografi bukit dengan ketinggian hingga 32 meter ini memiliki titik dasar
TD 175 dan titik referensi TR 175. “Kedua titik inilah yang dijadikan pedoman dalam menentukan wilayah perairan Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, dan Landas Kontinen Indonesia,” kata Dr Priyadi Kardono, Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam pada Badan Informasi Geospasial (BIG).
TD 175 dan titik referensi TR 175. “Kedua titik inilah yang dijadikan pedoman dalam menentukan wilayah perairan Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, dan Landas Kontinen Indonesia,” kata Dr Priyadi Kardono, Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam pada Badan Informasi Geospasial (BIG).
Mengalami Perubahan
Kini, setelah diterjang tsunami hebat pada 26 Desember 2004, bentuk
Pulau Rusa mengalami banyak perubahan. Hal ini terjadi karena gelombang
tsunami telah mengikis sebagian pantai di wilayah itu.
Dilihat dari citra Satelit Quick Bird misalnya, rupa pulau itu tidak
lagi berbentuk hewan rusa. Sebagian orang beranggapan, rupa Pulau Rusa
seperti embrio anak domba yang masih terlelap dalam kandungan induknya.
Terlepas dari perubahan bentuk tersebut, Pulau Rusa tetaplah elok
menawan, baik di wilayah daratan, pantai, maupun laut. Pulau ini
tersusun dari endapan aluvium, yakni hasil pengikisan dari erosi dan
abrasi batu gamping formasi Wapulaka (batuan yang lebih tua).
Tampak dari kejauhan pulau itu dibungkus permadani hijau. Hutan
tropis seluas 23,13 hektare mendominasi daratan tersebut. Selebihnya
diisi kawasan nonhutan (1,26 ha) dan lahan terbuka (tanah kosong dan
pantai) seluas 5,02 ha.
Satwa yang hidup di pulau terpencil tersebut misalya babi, ular, dan
hewan melata lainnya. “Dengan potensi ini, Pulau Rusa cocok dikembangkan
menjadi kawasan konservasi dan cagar alam hutan,” tutur Priyadi. Karena
itu, berbagai sarana dan prasarana (seperti energi listrik, dermaga,
pos pengawasan, serta areal dan akomodasi wisata) harus disediakan.
Turun ke arah pantai, Anda akan mendapatkan panorama yang
mengagumkan. Dengan garis pantai sepanjang 3,76 km, Anda bakal menjumpai
batu-batu besar yang tersusun ecara alami. Rasanya tak kalah dengan
panorama pantai di Bangka Belitung seperti ditampilkan dalam film Laskar
Pelangi.
Topografi di beberapa bagian pantai Pulau Rusa tampak cukup terjal.
Akibatnya, tak mudah didarati dari arah laut. Namun demikian, nelayan
lokal tahu persis bagian pantai yang dapat dilabuhi perahu mereka.
Dengan kedalaman pantai 13–24 meter, tak sulit bagi nelayan tradisional
mengarahkan perahunya agar bisa berlabuh dengan aman dan nyaman.
Tujuan mereka biasanya hanya untuk singgah setelah berburu menangkap
ikan. Dulu sebelum tsunami menerjang, banyak nelayan yang singgah ke
Pulau Rusa untuk memetik kelapa.
Namun, kini mereka sudah jarang singgah, paling hanya sekitar 5
sampai 10 orang. Mereka berasal dari tiga desa terdekat dengan Pulau
Rusa, yakni Saney, Utamong, dan Kareun.
Alasan jarang singgah karena banyak pohon kelapa yang tumbang disapu
tsunami. Di samping itu, jumlah mereka juga sudah jauh berkurang.
Di Desa Saney misalnya, sebelum tsunami dahsyat menghempas,
penduduknya berjumlah 365 orang. Namun setelah itu, yang mampu bertahan
hidup tinggal 84 orang.
Sangat Berjibun
Berbicara potensi ikan, perairan di Pulau Rusa dan sekitarnya adalah
sumbernya. Ikan teri, kembung, layang, cakalang, kerapu, tuna, udang
sabu, lobster, dan teripang menghampar berlimpah ruah.
Berbekal jaring hanyut dan pancing itulah, nelayan mencari
peruntungan di sana. Ada juga beberapa nelayan yang nekat menangkap
teripang dengan cara menyelam.
Teripang merupakan salah satu biota laut yang jumlahnya sangat
berjibun. “Dalam seminggu, mereka dapat mengumpulkan teripang sekitar
500 kg dengan harga jual mencapai 400 ribu rupiah per kg,” ungkap Dr
Nurwadjedi MSc, penanggung jawab kegiatan survei Bakosurtanal di empat
pulau terluar, termasuk Pulau Rusa.
Selain itu, perairan tersebut juga dikaruniai udang lobster dalam
jumlah besar. Jika sedang musim panen, nelayan mampu menangkap lobster
satu ton per minggu dengan harga jual berkisar 100.000 rupiah sampai
200.000 rupiah per kg. Hasil tangkapan tersebut lalu dipasarkan ke Banda
Aceh, Jakarta, dan Hong Kong.
Maraknya teripang, lobster, dan aneka jenis ikan juga tak terlepas
dari kondisi terumbu karang yang masih terjaga dengan baik. Di sepanjang
pantai yang landai misalnya, tipe terumbu karang tepi (fringing reef)
menghampar luas.
“Penutupan karang di perairan Pulau Rusa diperkirakan mencapai 56,48
persen dengan terumbu karang yang masih alami,” ungkap Nurwadjedi.
Survei membuktikan, kerusakan karang akibat ulah manusia belum terjadi.
“Aktivitas nelayan dalam menangkap ikan masih menggunakan cara-cara
yang ramah lingkungan. Mereka tak menggunakan bom dan racun. Mereka juga
tidak mengambil karang hidup,” ujarnya.
Perilaku semacam inilah yang patut ditiru nelayan lainnya. Sebab,
ketika ekosistem terumbu karang masih terjaga dengan baik, beragam jenis
biota laut juga dapat tumbuh dan berkembang secara subur.
Berdasarkan fakta inilah ke depan perairan di Pulau Rusa dan
sekitarnya layak jika dikembangkan menjadi Taman Nasional Laut, Suaka
Alam Laut, dan Taman Wisata Laut. Dengan demikian, potensi alam tersebut
dapat dimanfaatkan masyarakat luas secara berkelanjutan (Sumber)
0 komentar:
Posting Komentar