MELBOURNE, KOMPAS.com - Sekitar 40 warga Indonesia
di Melbourne hari Minggu (8/7/2012) berkumpul di Federation Square, di
pusat kota Melbourne menyuarakan keprihatinan, terhadap seringnya
terjadi upaya politis untuk menghambat gerakan pemberantasan korupsi di
Indonesia.
Menurut koordinator acara ini, Aminuddin M Ramdhan,
pesan yang dikirim dari aksi tersebut ditujukan ke publik Indonesia dan
publik Australia.
Untuk publik Indonesia, aksi ini menunjukkan
bahwa dukungan untuk pemberantasan korupsi datang dari segenap lapisan
masyarakat, baik yang ada di dalam negeri ataupun masyarakat Indonesia
yang ada di luar negeri.
Bagi publik Australia, aksi ini bertujuan untuk menunjukkan sisi lain pergulatan Indonesia menjadi negara yang lebih baik.
Selama
ini, pemberitaan media Australia tentang Indonesia, didominasi oleh isu
imigran gelap dan isu kuota impor sapi. Aksi ini cukup sukses mencapai
tujuannya, terbukti dengan tanggapan positif masyarakat Australia yang
ikut mendengarkan orasi dari peserta aksi yang dibawakan dalam bahasa
Inggris tersebut.
Menurut rilis yang diterima oleh koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya,
dalam acara tersebut yang berlangsung selama dua jam, para peserta yang
sebagian besar adalah mahasiswa Indonesia yang sedang studi di
Melbourne, secara simbolis mencabut tanda bintang untuk melambangkan
perlunya DPR segera mencabut tanda bintang pada anggaran pembangunan
gedung KPK yang baru.
Selain itu juga dilakukan pengumpulan dana
pembangunan gedung baru KPK oleh komunitas Indomelb. Pengumpulan dana
ini adalah simbol harapan bahwa ada lembaga penegak hukum seperti KPK
yang mendapat dukungan begitu luas dari masyarakat, termasuk warga
Indonesia yang ada di Australia.
KPK diharapkan untuk terus
berjuang melakukan pemberantasan korupsi, meski dengan sumberdaya yang
terbatas. Sementara itu, pada hari Sabtu, sebagai bentuk partisipasi
aktif publik terhadap gerakan pemberantasan korupsi, mahasiswa asal
Indonesia yang sedang melaksanakan studi di Monash University
memperkenalkan situs www.laporsuap.com.
Harryadin Mahardika
sebagai inisiator mengatakan bahwa situs laporsuap.com memberi
kesempatan kepada masyarakat untuk menceritakan pengalaman mereka saat
dipungli oleh oknum petugas pelayan publik. Misalnya, saat masyarakat
mengurus dokumen seperti KTP, SIM, paspor dan sebagainya.
Masyarakat
juga bisa melaporkan jumlah pungli yang diminta oknum petugas. Nantinya
jumlah keseluruhan pungli akan diakumulasi, untuk menunjukkan instansi
mana yang paling banyak meminta pungli.
Akumulasi laporan
masyarakat yang terkumpul di laporsuap.com nantinya akan menjadi alat
untuk menekan instansi publik. Instansi-instansi yang banyak mendapatkan
laporan diharapkan dapat merespon dengan meningkatkan layanan yang
diberikan, terutama memberikan sanksi tegas kepada oknum pegawainya yang
melakukan pungli.
Para relawan yang mengelola laporsuap.com
juga berencana untuk menjalankan gerakan yang dinamakan Zero Rupiah.
Kampanye ini merupakan replikasi dari gerakan Zero Rupee yang telah
berjalan di India yang digagas oleh Vijay Anand.
Gerakan Zero
Rupee dimulai dengan mendistribusikan jutaan lembar tiruan uang dengan
nominal nol Rupee. Lembaran uang tersebut digunakan oleh masyarakat
untuk menyindir para oknum yang melakukan pungli.
Gerakan yang
sama perlu dilakukan di Indonesia sebagai upaya untuk memberikan
empowerment kepada para korban pungli. Laporsuap.com berencana
mengumpulkan dana untuk mencetak uang Zero Rupiah.
Uang nol rupiah
yang dicetak kemudian akan didistribusikan kepada masyarakat yang
memerlukan. Uang ini bisa diselipkan diantara uang pungli yang
dibayarkan, sebagai 'bonus' sekaligus sindiran kepada oknum yang
melakukan pungli.(Sumber)
0 komentar:
Posting Komentar