Jakarta - Kandidat Gubernur DKI dari Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid (HNW) tumbang dalam Pemilihan Umum
Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta. Hasil hitung cepat, HNW hanya
memperoleh suara di kisaran 11-12 persen. Ada apa dengan PKS?
Pemilukada
DKI menghadirkan banyak kejutan. Selain menempatkan pasangan Joko
Widodo-Basuki Tjahaja Purnama sebagai pengumpul suara terbanyak
mengungguli kandidat petahana Fauzi Bowo, dalam quick count ada kejutan
lain dihadirkan pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini. Pasangan
ini hanya memperoleh suara di kisaran 11-12 persen.
Perolehan ini
jelas mengejutkan kader PKS tak terkecuali publik. Terlebih bila
membandingkan perolehan suara saat Pemilukada 2007 lalu pasangan yang
diusung PKS Adang Daradjatun-Dani Anwar memperoleh angka 40 persen
lebih. Meski, membandingkan Pemilukada DKI 2007 dengan 2012 ini jelas
bukan langkah yang tepat.
Dalam Pemilu 2009 lalu di DKI Jakarta,
PKS memperoleh suara 18 persen di bawah Partai Demokrat yang memperoleh
suara 35 persen. Angka tersebut dalam kenyataan Pemilukada DKI tak
berbanding lurus. Kandidat PKS defisit suara, jauh di bawah perolehan
saat Pemilu 2009 lalu.
Koordinator Relawan Hidayat-Didik
Zulkifliemansyah menegaskan kader PKS di DKI Jakarta solid mendukung
Hidayat-Didik. "Tapi simpatisan dan suara mengambang nampaknya punya
pilihan yang lain," kata Zul melalui BlakcBerry Messenger (BBM) kepada INILAH.COM, Kamis (12/7/2012).
Hanya
saja, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI ini tidak menampik bila perolehan
Pemilukada DKI ini menimbulkan kekecewaan. Menurut dia, hasil Pemilukada
DKI semestinya menjadi umpan balik bagi PKS. "Agar PKS segera berbenah
dalam menyambut Pemilu 2014," harap Zul.
Hal senada ditegaskan
Ketua DPP PKS Bidang Media Mardani Ali Sera ihwal soliditas kader PKS
dalam mendukung kandidat Hidayat-Didik. Menurut dia, kader PKS bergerak
menyokong Hidayat Nur Wahid. "Tidak hanya kader di Jakarta, tapi juga
dari luar Jakarta," cetus Mardani melalui saluran telepon.
Dia
mengklaim Pemilukada DKI Jakarta ini justru memperkuat struktur partai
khususnya di DKI. "Pemilukada DKI justru memperkuat struktur partai,"
klaim Mardani. Hanya saja Mardani mengakui pola pendekatan PKS kepada
calon pemilih belum bisa menangkap realitas baru di tengah masyarakat.
Menurut dia, pemilih ingin lebih fokus dan elegan. "Tidak sekadar
janji," terang Mardani.
Di bagian lain ia menyebutkan kemenangan
Jokowi-Ahok dipengaruhi banyaknya kelompok kelas menengah terhadap akses
informasi. "Tak terkecuali pengaruh media masa yang begitu luar biasa.
Sedangkan kita tidak mengoptimalkan media," aku Mardani.
Sumber INILAH.COM
di internal PKS menginformasikan yang berbeda soal kekalahan
Hidayat-Didik dalam Pemilukada DKI ini. Menurut dia, kekalahan calon PKS
tidak terlepas dari tidak solidnya elit PKS dalam memberikan dukungan
ke Hidayat-Didik.
"Beberapa elit memang dipakai untuk menggembosi
PKS. Supaya Hidayat tidak besar di 2014," ucap sumber tersebut.
Implikasi nyata yang muncul atas sikap ini, lanjut sumber tersebut,
logistik untuk pemilukada tidak mengucur untuk mendorong pemenangan
Hidayat-Didik. (Sumber)
0 komentar:
Posting Komentar